Tag: buku

The paradox of choice: Sebuah pilihan dan keputusan

The paradox of choice: Sebuah pilihan dan keputusan

“Should I kill myself, or have a cup of coffee?”
Sebuah kalimat dari Albert Camus, seorang filsuf dari Perancis, tersebut dikutip dalam buku Barry Schwartz, The Paradox of Choice , sebagai ungkapan yang mewakili bahwa segala sesuatu dalam hidup ini adalah sebuah pilihan. Tak bisa dipungkiri, setiap hari kita dihadapkan pada berbagai pilihan mulai dari memilih baju untuk dipakai ke tempat kerja, memilih makanan yang tercantum di menu restaurant, memilih peralatan elektronik dan berbagai pilihan lain yang kita lakukan dalam keseharian.Memilih memang sebuah perkara yang rumit dan menjadi semakin rumit dengan hadirnya semakin banyak pilihan yang tersaji di hadapan kita saat ini.

Pernah kita berada di sebuah toko sepatu dan kebingungan sepatu yang manakah yang akan kita beli? Pernahkah kita memasuki sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli peralatan kebutuhan sehari-hari, namun kita membutuhkan waktu seharian untuk memilih sabun apa yang akan kita pakai Lanjutkan membaca “The paradox of choice: Sebuah pilihan dan keputusan”

Produk yang mengubah pola pikir dan kebiasaan Habit forming products

Produk yang mengubah pola pikir dan kebiasaan Habit forming products

Apa yang kalian lakukan saat bangun tidur? mungkin sebagian dari kalian langsung memiliki reflek untuk membuka handphone (hp). Dengan mata masih setengah terbuka, jari jemari kita langsung handal mengambil hp dan membuka chat selamat pagi dari si pacar di WhatsApp, membaca komentar follower tentang foto yang Anda post semalam di Path dan lanjut melihat cuitan terbaru akun-akun di Twitter yang Anda follow. Kalau iya, berarti kalian terkena perangkap Habit forming products.

Sebuah riset menunjukan, 79% pemilik smartphone membuka smartphone mereka dalam kurun waktu 15 menit setelah bangun dari tidur di pagi hari[1]. Lantas, apa yang membuat hal ini menjadi suatu kebiasaan tanpa kita sadari? Apakah ini tindakan yang di prakarsai illuminati? Lanjutkan membaca “Produk yang mengubah pola pikir dan kebiasaan Habit forming products”

Review buku BLINK; The power of thinking without thinking by Malcolm gladwell

Mereka yang berasal dari suku Jawa, punya ambigun;”Weruh sadurunge winarah” (Sudah tahu sebelum diberi tahu). Malcolm Gladwell seorang jurnalis muda dari New York punya: BLINK; The power of thinking without thinking; buku yang menggambarkan bahwa pilihan keputusan jitu seringkali ditentukan dengan segera, sekejap mata saja. Dan kemampuan untuk mengambil keputusan cepat inilah yang dapat menjadi pembeda antara pengambil keputusan biasa dengan yang brilian. Secara keseluruhan buku ini mengingatkan kita, atas sesuatu yang masih jarang kita andalkan dalam keputusan bisnis, yaitu intuisi. Intuisi, memang masih terhitung jarang dijadikan bahan kajian oleh para pakar dan praktisi bisnis ketimbang pengambilan keputusan rasional yang berdasarkan analisa. Umumnya, orang mengasosiasikan intuisi dengan pengambilan keputusan yang irasionil, cenderung mistis, dan berada pada ranah yang menjadi urusan paranormal. Padahal sebaliknya, kata Gladwell (dan banyak pakar psikologi belakangan ini), keputusan cepat ini justru sangat rasional. Dalam sebuah wawancara yang ada di situs pribadinya (www.gladwell.com), Gladwell mengatakan, “Yang terjadi dalam sekejap itu sangat rasional. Kita sebenarnya sedang berpikir –hanya berpikir yang lebih cepat dan operasi keputusan itu memang sedikit misterius karena berlangsung dibawah sadar sehingga kita tidak menganggapnya sebagai berpikir.”
Sayangnya, karena didikan dan kebiasaan sehari-hari, banyak dari kita yang
terlalu mudah untuk curiga dengan alternatif berpikir cepat ini. Banyak pula dari kita tak menganggap bahwa mutu keputusan harus berkaitan dengan lamanya kita menimbang. Artinya kita terlalu percaya pada pengambilan keputusan yang didasarkan kesadaran dan analisa. Blink, terutama di bab-bab awal mengajak kita untuk merubah paradigma ini. Lanjutkan membaca “Review buku BLINK; The power of thinking without thinking by Malcolm gladwell”