Strategi pemasaran ala Gen Z

Strategi pemasaran ala Gen Z

Pada era awal tahun 2000-an dunia disibukkan oleh ulah generasi milenium (mereka yang lahir di awal 80-an) yang memicu perkembangan teknologi informasi. Bagi generasi-generasi sebelumnya, menonton televisi sambil mengganti channel melalui remote adalah cikal-bakal kemalasan. Namun tidak demikian halnya dengan generasi ini.

Meski kecenderungan untuk bergantung pada otomatisasi sangat tinggi namun perlu disadari bahwa itu semua bertujuan meningkatkan kualitas hidup manusia. Dimensi waktu tak lagi dipandang sebelah mata. Satuan menit dan detik merupakan hal yang begitu berarti. Tak jarang melalui otomatisasi yang berhasil diciptakan, para generasi milenium menghabiskan banyak waktu untuk berkarya. Inilah yang sebenarnya memicu pesatnya perkembangan industri kreatif. Lanjutkan membaca “Strategi pemasaran ala Gen Z”

Produk yang mengubah pola pikir dan kebiasaan Habit forming products

Produk yang mengubah pola pikir dan kebiasaan Habit forming products

Apa yang kalian lakukan saat bangun tidur? mungkin sebagian dari kalian langsung memiliki reflek untuk membuka handphone (hp). Dengan mata masih setengah terbuka, jari jemari kita langsung handal mengambil hp dan membuka chat selamat pagi dari si pacar di WhatsApp, membaca komentar follower tentang foto yang Anda post semalam di Path dan lanjut melihat cuitan terbaru akun-akun di Twitter yang Anda follow. Kalau iya, berarti kalian terkena perangkap Habit forming products.

Sebuah riset menunjukan, 79% pemilik smartphone membuka smartphone mereka dalam kurun waktu 15 menit setelah bangun dari tidur di pagi hari[1]. Lantas, apa yang membuat hal ini menjadi suatu kebiasaan tanpa kita sadari? Apakah ini tindakan yang di prakarsai illuminati? Lanjutkan membaca “Produk yang mengubah pola pikir dan kebiasaan Habit forming products”

Review buku BLINK; The power of thinking without thinking by Malcolm gladwell

Mereka yang berasal dari suku Jawa, punya ambigun;”Weruh sadurunge winarah” (Sudah tahu sebelum diberi tahu). Malcolm Gladwell seorang jurnalis muda dari New York punya: BLINK; The power of thinking without thinking; buku yang menggambarkan bahwa pilihan keputusan jitu seringkali ditentukan dengan segera, sekejap mata saja. Dan kemampuan untuk mengambil keputusan cepat inilah yang dapat menjadi pembeda antara pengambil keputusan biasa dengan yang brilian. Secara keseluruhan buku ini mengingatkan kita, atas sesuatu yang masih jarang kita andalkan dalam keputusan bisnis, yaitu intuisi. Intuisi, memang masih terhitung jarang dijadikan bahan kajian oleh para pakar dan praktisi bisnis ketimbang pengambilan keputusan rasional yang berdasarkan analisa. Umumnya, orang mengasosiasikan intuisi dengan pengambilan keputusan yang irasionil, cenderung mistis, dan berada pada ranah yang menjadi urusan paranormal. Padahal sebaliknya, kata Gladwell (dan banyak pakar psikologi belakangan ini), keputusan cepat ini justru sangat rasional. Dalam sebuah wawancara yang ada di situs pribadinya (www.gladwell.com), Gladwell mengatakan, “Yang terjadi dalam sekejap itu sangat rasional. Kita sebenarnya sedang berpikir –hanya berpikir yang lebih cepat dan operasi keputusan itu memang sedikit misterius karena berlangsung dibawah sadar sehingga kita tidak menganggapnya sebagai berpikir.”
Sayangnya, karena didikan dan kebiasaan sehari-hari, banyak dari kita yang
terlalu mudah untuk curiga dengan alternatif berpikir cepat ini. Banyak pula dari kita tak menganggap bahwa mutu keputusan harus berkaitan dengan lamanya kita menimbang. Artinya kita terlalu percaya pada pengambilan keputusan yang didasarkan kesadaran dan analisa. Blink, terutama di bab-bab awal mengajak kita untuk merubah paradigma ini. Lanjutkan membaca “Review buku BLINK; The power of thinking without thinking by Malcolm gladwell”

Marketing ala guru Seth Godin

Marketing ala guru Seth Godin

Pernah membaca buku-buku hasil pemikiran Seth Godin seperti Permission marketing, purple cow, unleashing the ideavirus dan All Marketers are Liars ? Saya pernah dan sangat menyukainya serta berpendapat bahwa ia pantas dikategorikan sebagai Modern Mechanical Marketing Guru yang sangat radikal. Serupa dengan pemikiran Academic-Modern Marketing Approach dari Philip Kotler dan Hermawan Kertajaya, mereka semua mencoba untuk tidak mencampur Modern Marketing dengan pendekatan tradisional (traditional approach) yang diberi label oleh Seth Godin sebagai Interruption Marketing!

Namun, Seth Godin memiliki pemikiran Marketing Approach yang menurut saya lebih fokus, sederhana, gila namun masuk akal! Fokus karena beliau,hanya menitik beratkan Marketing pada 2 pendekatan yaitu Referral Marketing atau Permission Marketing atau Viral Marketing di mana WOM (word of mouth) termasuk di dalamnya dan Penciptaan atribut ‘Purple Cow’ yang melekat pada produk atau jasa kita. Sederhana kata saya, karena beliau tidak ingin merepotkan dirinya dengan Marketing Tools yang kurang efektif dan rumit. Lanjutkan membaca “Marketing ala guru Seth Godin”

Strategi pemasaran dengan pendekatan Psikologi

Strategi pemasaran dengan pendekatan Psikologi

Hampir semua perusahaan Kecil ataupun besar mengikut sertakan Peran Psikologi manusia. Apalagi jika kita melihat dunia marketing, sudah banyak sekali para perusahaan besar ataupun kecil yang memanggil para trainer, psikolog untuk melatih para karyawan/i nya.

Sedikit perlu bagi kita untuk sekedar tahu prinsip utama psikologi yang cocok untuk para pebisnis. Dan untuk membantu kita menarik, meyakinkan dan mengkonversi lebih banyak orang dengan konten marketing kita.

Dalam buku yang berjudul “Influence : the Psychology of Persuasion”, Dr. Robert Cialdini mengungkapkan beberapa konsep psikologi yang terkait dalam persuasi.  Ternyata strategi pemasaran yang menyasar pada sisi psikologis manusia terbukti lebih efektif.

Berikut konsep psikologi yang membantu Anda dalam menjalankan strategi pemasaran : Lanjutkan membaca “Strategi pemasaran dengan pendekatan Psikologi”

Learned Optimism – How to Change Your Mind and Your Life

Learned Optimism – How to Change Your Mind and Your Life

Apakah Anda termasuk insan-insan yang penuh spirit optimisme, yang selalu memandang setiap peristiwa dari sudut pandang yang positif? Atau sebaliknya, termasuk pribadi yang acap digelayuti dengan rasa pesimisme dan melihat masa depan dan sekeliling Anda dengan sepercik pandangan yang buram?

Jika Anda termasuk kategori yang pertama, mungkin Anda termasuk insan yang beruntung. Riset demi riset yang telah dilakukan menunjukkan : pribadi yang memandang dunia sekelilingnya dengan rasa optimisme terbukti mampu menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik dibanding rekannya yang acap dirudung oleh pesimisme. Fakta ini ditemukan baik dalam dunia kerja, dunia olahraga, dan juga dalam bangku sekolah. Lanjutkan membaca “Learned Optimism – How to Change Your Mind and Your Life”