Kategori: MARKETING

The paradox of choice: Sebuah pilihan dan keputusan

The paradox of choice: Sebuah pilihan dan keputusan

“Should I kill myself, or have a cup of coffee?”
Sebuah kalimat dari Albert Camus, seorang filsuf dari Perancis, tersebut dikutip dalam buku Barry Schwartz, The Paradox of Choice , sebagai ungkapan yang mewakili bahwa segala sesuatu dalam hidup ini adalah sebuah pilihan. Tak bisa dipungkiri, setiap hari kita dihadapkan pada berbagai pilihan mulai dari memilih baju untuk dipakai ke tempat kerja, memilih makanan yang tercantum di menu restaurant, memilih peralatan elektronik dan berbagai pilihan lain yang kita lakukan dalam keseharian.Memilih memang sebuah perkara yang rumit dan menjadi semakin rumit dengan hadirnya semakin banyak pilihan yang tersaji di hadapan kita saat ini.

Pernah kita berada di sebuah toko sepatu dan kebingungan sepatu yang manakah yang akan kita beli? Pernahkah kita memasuki sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli peralatan kebutuhan sehari-hari, namun kita membutuhkan waktu seharian untuk memilih sabun apa yang akan kita pakai Lanjutkan membaca “The paradox of choice: Sebuah pilihan dan keputusan”

Strategi pemasaran ala Gen Z

Strategi pemasaran ala Gen Z

Pada era awal tahun 2000-an dunia disibukkan oleh ulah generasi milenium (mereka yang lahir di awal 80-an) yang memicu perkembangan teknologi informasi. Bagi generasi-generasi sebelumnya, menonton televisi sambil mengganti channel melalui remote adalah cikal-bakal kemalasan. Namun tidak demikian halnya dengan generasi ini.

Meski kecenderungan untuk bergantung pada otomatisasi sangat tinggi namun perlu disadari bahwa itu semua bertujuan meningkatkan kualitas hidup manusia. Dimensi waktu tak lagi dipandang sebelah mata. Satuan menit dan detik merupakan hal yang begitu berarti. Tak jarang melalui otomatisasi yang berhasil diciptakan, para generasi milenium menghabiskan banyak waktu untuk berkarya. Inilah yang sebenarnya memicu pesatnya perkembangan industri kreatif. Lanjutkan membaca “Strategi pemasaran ala Gen Z”

Produk yang mengubah pola pikir dan kebiasaan Habit forming products

Produk yang mengubah pola pikir dan kebiasaan Habit forming products

Apa yang kalian lakukan saat bangun tidur? mungkin sebagian dari kalian langsung memiliki reflek untuk membuka handphone (hp). Dengan mata masih setengah terbuka, jari jemari kita langsung handal mengambil hp dan membuka chat selamat pagi dari si pacar di WhatsApp, membaca komentar follower tentang foto yang Anda post semalam di Path dan lanjut melihat cuitan terbaru akun-akun di Twitter yang Anda follow. Kalau iya, berarti kalian terkena perangkap Habit forming products.

Sebuah riset menunjukan, 79% pemilik smartphone membuka smartphone mereka dalam kurun waktu 15 menit setelah bangun dari tidur di pagi hari[1]. Lantas, apa yang membuat hal ini menjadi suatu kebiasaan tanpa kita sadari? Apakah ini tindakan yang di prakarsai illuminati? Lanjutkan membaca “Produk yang mengubah pola pikir dan kebiasaan Habit forming products”

Marketing ala guru Seth Godin

Marketing ala guru Seth Godin

Pernah membaca buku-buku hasil pemikiran Seth Godin seperti Permission marketing, purple cow, unleashing the ideavirus dan All Marketers are Liars ? Saya pernah dan sangat menyukainya serta berpendapat bahwa ia pantas dikategorikan sebagai Modern Mechanical Marketing Guru yang sangat radikal. Serupa dengan pemikiran Academic-Modern Marketing Approach dari Philip Kotler dan Hermawan Kertajaya, mereka semua mencoba untuk tidak mencampur Modern Marketing dengan pendekatan tradisional (traditional approach) yang diberi label oleh Seth Godin sebagai Interruption Marketing!

Namun, Seth Godin memiliki pemikiran Marketing Approach yang menurut saya lebih fokus, sederhana, gila namun masuk akal! Fokus karena beliau,hanya menitik beratkan Marketing pada 2 pendekatan yaitu Referral Marketing atau Permission Marketing atau Viral Marketing di mana WOM (word of mouth) termasuk di dalamnya dan Penciptaan atribut ‘Purple Cow’ yang melekat pada produk atau jasa kita. Sederhana kata saya, karena beliau tidak ingin merepotkan dirinya dengan Marketing Tools yang kurang efektif dan rumit. Lanjutkan membaca “Marketing ala guru Seth Godin”

Strategi pemasaran dengan pendekatan Psikologi

Strategi pemasaran dengan pendekatan Psikologi

Hampir semua perusahaan Kecil ataupun besar mengikut sertakan Peran Psikologi manusia. Apalagi jika kita melihat dunia marketing, sudah banyak sekali para perusahaan besar ataupun kecil yang memanggil para trainer, psikolog untuk melatih para karyawan/i nya.

Sedikit perlu bagi kita untuk sekedar tahu prinsip utama psikologi yang cocok untuk para pebisnis. Dan untuk membantu kita menarik, meyakinkan dan mengkonversi lebih banyak orang dengan konten marketing kita.

Dalam buku yang berjudul “Influence : the Psychology of Persuasion”, Dr. Robert Cialdini mengungkapkan beberapa konsep psikologi yang terkait dalam persuasi.  Ternyata strategi pemasaran yang menyasar pada sisi psikologis manusia terbukti lebih efektif.

Berikut konsep psikologi yang membantu Anda dalam menjalankan strategi pemasaran : Lanjutkan membaca “Strategi pemasaran dengan pendekatan Psikologi”

Word of Mouth Marketing

Pada kesempatan ini saya mencoba untuk mengangkat sedikit tentang Word of Mouth Marketing (WOMM) karena pendekatan inilah yang paling cocok untuk dilakukan pada social media ataupun online communities, maaf saya tidak menterjemahkannya Word of Mouth Marketing kedalam Bahasa Indonesia karena takut justru jadi membingungkan. Prinsip dasar dari Word of Mouth Marketing sebenarnya tercermin dari kalimat dibawah ini:

Happy customers are your best advertisers. If people like you and like what you do, they will tell their friends

Sangat sederhana kan ya? Dan pendekatan ini bisa muncul secara alami (natural) dari aktivitas ngobrol yang juga memang sangat dekat dengan masyarakat kita. Tulisan ini sebagian besar saya ambil dari wordofmouth.org:

Definisi dari Word of Mouth Marketing

Word of Mouth Marketing adalah:

  1. Memberikan alasan bagi orang untuk membicarakan tentang Anda/produk Anda
  2. Membuat sebuah percakapan jadi mudah bergulir dan tepat pada konteksnya

Akan disebut dengan CtoC (Customer to Customer) Marketing, jika pengguna bercerita pada pengguna lain tentang Anda/produk Anda, well sebenarnya ya BtoCtoC (Business to Customer to Customer). Bila dimulai dari mulut seorang marketer maka akan disebut sebagai marketing. Ketika pengguna mengulangnya ke pengguna lainnya maka itu yang disebut dengan Word of Mouth.

Kita semua tahu bahwa orang suka membicarakan hal-hal yang menurut mereka keren dan fantastis ataupun perlakuan yang berkesan bagi mereka dari sebuah perusahaan/brand yang mereka sukai.

Empat Aturan Dasar Word of Mouth

Aturan 1: Jadilah Menarik

  • Tidak ada yang mau membicarakan perusahaan yang tidak menarik, produk yang membosankan, iklan yang tidak menarik. Setiap orang bisa menjadi menarik, apapun bisa dibuat menarik. Sebelum Anda menjalankan sebuah ad, sebelum Anda meluncurkan sebuah produk, tanyakan pada pasangan Anda terlebih dahulu. Percayalah, jika ia menganggapnya menarik, maka Anda akan jadi pemenang 🙂

Lanjutkan membaca “Word of Mouth Marketing”