Kategori: BOOK REVIEW

Rahasia Sukses Bill Gates dan The Beatles

Rahasia Sukses Bill Gates dan The Beatles

Dalam buku karya Malcolm Gladwell yang brilliant berjudul Outliers memuat sebuah pemikiran bahwa keberhasilan dalam melakukan sebuah tugas yang kompleks mensyaratkan adanya jumlah minimum waktu latihan secara berulang-ulang untuk memperoleh keahlian dalam sebuah bidang tertentu. Pemikiran ini bernama teori sepuluh ribu jam – sebuah angka ajaib agar seseorang dapat mencapai peak performance-nya.

Seorang ahli saraf bernama Daniel Levitin menjelaskan dalam tulisannya, “Dalam berbagai penelitian terhadap para seniman, penulis novel fiksi, musisi, olahragawan hingga penjahat kelas kakap, angka sepuluh ribu jam selalu muncul berulang kali. Belum ada seorang pun yang pernah menemuan bahwa seseorang dapat menjadi ahli kelas dunia dengan waktu latihan yang lebih sedikit. Sepertinya otak kita memang membutuhkan waktu sepanjang itu untuk menyerap semua yang dibutuhkan untuk menjadi seorang yang ahli di bidangnya.” Lanjutkan membaca “Rahasia Sukses Bill Gates dan The Beatles”

Review buku BLINK; The power of thinking without thinking by Malcolm gladwell

Mereka yang berasal dari suku Jawa, punya ambigun;”Weruh sadurunge winarah” (Sudah tahu sebelum diberi tahu). Malcolm Gladwell seorang jurnalis muda dari New York punya: BLINK; The power of thinking without thinking; buku yang menggambarkan bahwa pilihan keputusan jitu seringkali ditentukan dengan segera, sekejap mata saja. Dan kemampuan untuk mengambil keputusan cepat inilah yang dapat menjadi pembeda antara pengambil keputusan biasa dengan yang brilian. Secara keseluruhan buku ini mengingatkan kita, atas sesuatu yang masih jarang kita andalkan dalam keputusan bisnis, yaitu intuisi. Intuisi, memang masih terhitung jarang dijadikan bahan kajian oleh para pakar dan praktisi bisnis ketimbang pengambilan keputusan rasional yang berdasarkan analisa. Umumnya, orang mengasosiasikan intuisi dengan pengambilan keputusan yang irasionil, cenderung mistis, dan berada pada ranah yang menjadi urusan paranormal. Padahal sebaliknya, kata Gladwell (dan banyak pakar psikologi belakangan ini), keputusan cepat ini justru sangat rasional. Dalam sebuah wawancara yang ada di situs pribadinya (www.gladwell.com), Gladwell mengatakan, “Yang terjadi dalam sekejap itu sangat rasional. Kita sebenarnya sedang berpikir –hanya berpikir yang lebih cepat dan operasi keputusan itu memang sedikit misterius karena berlangsung dibawah sadar sehingga kita tidak menganggapnya sebagai berpikir.”
Sayangnya, karena didikan dan kebiasaan sehari-hari, banyak dari kita yang
terlalu mudah untuk curiga dengan alternatif berpikir cepat ini. Banyak pula dari kita tak menganggap bahwa mutu keputusan harus berkaitan dengan lamanya kita menimbang. Artinya kita terlalu percaya pada pengambilan keputusan yang didasarkan kesadaran dan analisa. Blink, terutama di bab-bab awal mengajak kita untuk merubah paradigma ini. Lanjutkan membaca “Review buku BLINK; The power of thinking without thinking by Malcolm gladwell”

Learned Optimism – How to Change Your Mind and Your Life

Learned Optimism – How to Change Your Mind and Your Life

Apakah Anda termasuk insan-insan yang penuh spirit optimisme, yang selalu memandang setiap peristiwa dari sudut pandang yang positif? Atau sebaliknya, termasuk pribadi yang acap digelayuti dengan rasa pesimisme dan melihat masa depan dan sekeliling Anda dengan sepercik pandangan yang buram?

Jika Anda termasuk kategori yang pertama, mungkin Anda termasuk insan yang beruntung. Riset demi riset yang telah dilakukan menunjukkan : pribadi yang memandang dunia sekelilingnya dengan rasa optimisme terbukti mampu menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik dibanding rekannya yang acap dirudung oleh pesimisme. Fakta ini ditemukan baik dalam dunia kerja, dunia olahraga, dan juga dalam bangku sekolah. Lanjutkan membaca “Learned Optimism – How to Change Your Mind and Your Life”

The Black Swan

The Black Swan

Peledakan gedung di New York 9/11, kemunculan Hitler, kehancuran Rusia, krisis finansial Asia, kehancuran dotcom, suksesnya buku Harry Potter, suksesnya Google, adalah kejadian kejadian langka yang tidak terbayangkan sebelumnya. Ada tiga elemen dari kejadian tersebut: Hal tersebut tidak terduga sebelumnya, akibat kejadian tersebut sangat besar dalam perubahan kehidupan kita, dan setelah terjadinya kejadian, kita akan mudah menjelaskannya. Lanjutkan membaca “The Black Swan”

Marketing In Venus

Anda tahu John Gray? Dia seorang mahaguru human relationship yang lagi ngetop dengan bestselling-nya, Men are from Mars, Women are from Venus. Di situ dia bicara banyak soal bagaimana membina relationship antara pria dan wanita. Di antaranya dia menyebut bahwa pria yang berasal dari planet Mars memiliki rasionalitas lebih tinggi daripada wanita yang berasal dari Venus. Mereka kemudian menetap di bumi di mana kerap terjadi perselisihan di antara keduanya. Dan sekarang yang terjadi, sang pria mengajak si wanita untuk kembali ke Venus ke tempat di mana emosi lebih dikedepankan daripada berpikir logis.

Bumi yang sekarang bukanlah bumi yang dulu. Venus identik dengan wanita. Bumi telah menjadi Venus. Intinya untuk memahami karakter konsumen di Venus setidaknya Anda harus tahu betul bagaimana memahami wanita. Begitulah yang ingin disampaikan buku ini dengan 18 Guiding Principles Marketing in Venus-nya.

Ini adalah sebuah riset yang cukup panjang dengan objek penelitian perusahaan besar dan ternama seperti Microsoft, McDonald, The Body Shop, General Electric dan sederet nama beken lainnya. Riset saya yakini keabsahannya karena didukung oleh para researcher handal di MarkPlus seperti Yuswohady, Dewi Madyani, dan Bembi Dwi Indrio. Team Markplus dipimpin Pak Hermawan kertajaya tampil mengesankan dengan buku yang sangat nikmat ini.

Teknologi informasi menuai keberhasilan bukan karena teknologi nya tetapi karena pesan emosional yang dibawa oleh produk bersangkutan. Lihat saja bagaimana Connecting People-nya Nokia mampu secara signifikan menggeser kedudukan Erricson yang lebih mengunggulkan sisi kemajuan teknologi canggih pada ponsel-nya. Kemudian Yahoo!Messenger yang kalau Anda lihat banyak menampilkan fitur emoticons yang didesain sedemikian rupa untuk mewakili perasaan hati si user. Produk-produk seperti inilah yang banyak membawa sukses karena si produsen tahu betul bagaimana memberikan treatment secara emosional pada pelanggan.

Perlu Anda tahu bahwa market share penduduk Venus telah terbagi menjadi 2, yaitu Women dan Wo-Men (Women Oriented Men). Ini berarti bahwa di Venus pun, para PRIA harus diperlakukan secara halus sebagaimana Anda memperlakukan wanita. Coba Anda lihat bagaimana saat ini pria pergi ke salon untuk manicure, pedicure, atau bahkan mandi uap. Produk ponsel pun dilengkapi dengan fitur MMS dimana pria dapat mengirimkan pesan bergambar daripada mengungkapkan perasaan hati dengan untaian kata panjang dan puitis. Produsen memahami betul bahwa pria tidak mampu memikirkan banyak hal secara simultan. Ini berbeda sekali dengan wanita.

Berikutnya Anda perlu perhatikan bahwa Mind tidak lagi mendominasi proses jualan produk. Lebih baik lagi kalau eMotion juga dipertimbangkan sebagai unsur yang diharapkan mampu mendongkrak angka penjualan. Keberhasilan iMac dalam mentarget pemasarannya pun tidak terlepas dari kepiawaiannya meneropong masa depan. iMac tahu betul bahwa functional side tidak melulu harus dinomorsatukan. Bentuk dan desain produk iMac yang ergonomis dan unik menjadikan para desainer grafis, mayoritas pengguna iMac begitu mengidolakan produk ini.

Untuk lebih sukses menjual, cari tahu hidden expectation dari si pelanggan dan gunakan intuisi dan bukan interpretasi dalam strategi Anda. Ini yang terjadi pada FedEx yang pada awal pendiriannya menuai banyak hinaan dan cibiran. Mengikuti intuisi seringkali membawa keberuntungan bagi Anda.

Di Venus, Anda juga harus lebih proaktif melihat peluang. Sampoerna A Mild dengan How Low Can You Go atau Bukan Basa Basi-nya membawa style yang kalau saya bilang sangat distinctive bila dibanding dengan yang lain. Fakta ironis-nya, produsen rokok lain juga ikut-ikutan bikin strategi pemasaran yang serupa untuk mengkomunikasikan produk mereka ke khalayak. Penting juga kalau produk Anda memiliki karisma. Kalau sudah punya karisma, pelanggan akan mati-matian membela produk Anda jika produk tersebut dihina orang lain. Anda pasti sering mengamati kasus seperti ini.

Bisnis bukanlah aktifitas yang kaku layaknya kertas semen yang susah untuk dilipat. Bukan pula hanya hitungan untung rugi yang jadi bagian penting dalam kegiatan ini. Bagaimana memberikan service yang baik bagi pelanggan saya pikir adalah yang terbaik yang untuk menjalin sebuah relationship bisnis yang lebih humanis. Tentu dengan tidak mengurangi spirit berbisnis Anda bahwa Bisnis adalah Bisnis.

Positioning berkaitan erat dengan janji. Reliabilitas berhubungan dengan keakuratan. Semuanya sama sama penting. Hasil kerja yang akurat dan terselesaikan sesuai dengan deadline akan sangat menggembirakan pelanggan. The Body Shop telah membuktikan hal ini. Dengan slogan Against Animal Testing, perusahaan yang dipimpin Anita Roddick ini mengusung misi penting soal lingkungan hidup di samping juga memberikan argument yang memang valid bahwa mereka tidak pernah menguji coba hasil produk terhadap binatang.

Marlboro juga bukanlah rokok yang enak betul dipandang dari segi citarasa. Biasa-biasa saja. Nggak banyak beda dengan yang lain. Saya memang bukan perokok, tapi saya pernah menanyakan hal itu ke beberapa penggemar rokok ini. Apa sih yang menarik dari Marlboro? ?Ada semacam petualangan khusus ketika kita mengisapnya,? begitu kata teman saya. Saya jadi bingung, merokok dalam kepetualangan? Sejurus kemudian saya berpikir dan memang ada benarnya. Strategi komunikasi pemasaran mereka dengan slogan Come to Where the Flavor Is dengan ikon tokoh Cowboy sangat mengilhami para pecinta rokok putih untuk turut berpetualang. Inilah yang disebut bahwa Context di Venus lebih penting dari Content. Imaginasi lebih penting dari kenyataan.

Anda penikmat kopi sejati, mungkin pernah mendapatkan pengalaman khusus di Starbucks Coffee. Rasa dan aroma kopi sama saja. Tidah lebih nikmat dari kopi tubruk bikinan warung di pinggir jalan mungkin. Namun hasil survey menunjukkan bahwa jutaan pelanggan Starbucks di seluruh dunia justru kerasan dengan suasana yang diciptakan restoran. Experiential Marketing Strategy inilah yang diakui sangat jitu membidik konsumen di Venus.

Louis Vitton dalam perjalanan bisnis barang mewahnya diprediksi bakal mengalami kejatuhan karena penentuan harga jual yang dianggap kaku. Ternyata ramalan ini salah besar karena justru dengan pricing yang konsisten inilah, pelanggan Venus tidak akan kebingungan. Harga barang di outlet manapun di seluruh dunia tetap sama.

Membangun komunitas di antara pelanggan adalah jurus pemasaran paling strategis di Venus. Lihat saja bagaimana komunitas Harley Davidson Owners Club (HDOC) yang memiliki sense of belonging sangat kuat terhadap produk motor besar ini. Vroom vroom suara motor dengan nilai jual luar biasa. Tongkrongan lebih penting dari kwalitas, kesan lebih penting dari produk.

Amazon.com berhasil menangguk sukses besar dari jualan bukunya. Bukan karena koleksinya yang lengkap. Juga bukan karena buku-buku tersebut berkelas. Amazon.com bisa berhasil karena para pecinta buku pengunjung situs bisa memberikan ulasan atau resensi buku-buku terbitan Amazon.com. Inilah kekuatan word of mouse.

Membina relationship dengan pelanggan tidak cukup hanya dengan treatment secara general. Di Venus, Anda harus membina relationship dengan konsep one to one. Da Vinci, produsen furniture kelas dunia tidak hanya jualan barangnya, tapi dia juga memberikan advice, mendesain produk bersama pelanggan, dan bahkan merancang interior rumah Anda.

Marketing in Venus juga sangat menarik karena pada bagian akhir disajikan Appendix yang mengulas khusus jualan di Venus ala Martha Tilaar, perusahaan kosmetik ternama di Indonesia. Anda mungkin pernah menonton Martha Tilaar Marketing in Venus di Metro TV? Program TV Magazine ini memang ditujukan untuk role model Marketing in Venus.

Nah, untuk para marketer, salesperson, dan para businessman, Marketing in Venus adalah bacaan wajib Anda saat ini. Team Markplus telah bekerja cemerlang. Saat sisi humanis pelanggan sangat mempengaruhi akseptabilitas sebuah produk, maka kinilah saatnya Anda bisa meraih keuntungan dengan mengaplikasikan 18 Prinsip Marketing in Venus.

RE-IMAGINE!: Business Excellence In A Disruptive Age

Tom Peters adalah sebuah fenomena menarik. Dianggap sebagai Ur-Guru (atau Uber Guru atau Gurunya Guru, dalam bidang management), Tom Peters berseberangan pada polar sisi lain dari Peter Druckers. Kalau Peter Druckers adalah sisi ‘otak kiri’ management, maka Tom Peters adalah ‘otak kanan’? Managemen Guru paling top jaman ini, penuh semangat dan emosional.

Berumur 60 tahun pada 2003, Tom Peters adalah pemberi seminar paling laris (dan mahal) di dunia management. Tanggal 5 Maret 2004 yg lalu Beliau berseminar di Singapura untuk sehari dengan tiket 1800 $S (sekitar 9 juta rupiah) untuk satu orang. Seminarnya selalu penuh sesak dengan pendengar 500 sampai 1000 orang. Sehari berseminar beliau mendapat bayaran antara 75.000 sampai 100.000 USD, plus tiket dan akomodasi.

Buku pertamanya yang menjadi buku paling laris dalam dunia management abad ini adalah ‘In Search of Exellence’? yang ditulis bersama Bob Waterman saat masih bekerja di konsultan McKensey, buku ini masih saja laris walau sudah berumur 22 tahun. Buku Tom Peters yang lain adalah: A Passion of Excellence, Liberation Management, Thriving on Chaos, Persuit of WOW, The Tom Peters Seminar, Circle of Innovation, Brand You 50 dan beberapa buku lain. Re-Imagine adalah buku Tom Peters yang ke 11. Re-Imagine di terbitkan oleh penerbit DK yang terkenal dengan buku2 spiritual dan buku2 bergambarnya. DK menerbitkan buku panduan perjalanan, Atlas, dan banyak buku2 menarik yang semuanya kebanyakan bergambar dan penuh warna warni.

Dibagi dalam 7 bagian dan 25 bab, buku ini besar dan penuh warna dan gambar. Tom Peters memulai dengan sebuah kemarahan kepada Robert Jaedicte yang merupakan professornya 30 tahun lalu di Stanford University dan terakhir menjadi kepala Audit ENRON saat kena masalah, dan mangaku tidak tahu apa2 tentang kesalahan ENRON. Tom meminta Stanford untuk melepaskan gelarnya karena malu. Tom tidak pernah netral, sangat memihak dalam pandangan hidupnya, baik itu benar atau salah, dan misinya adalah sebuah kuburan dengan tulisan ‘He was a Player’?. Dia ingin menjadi pemain dalam hidup ini, tidak duduk dibangku cadangan, tetapi turut serta dalam merubah dan membentuk dunia ini.

Dunia telah berubah, dan selalu akan berubah terus.Kalau anda tidak suka perubahan, maka anda sebentar lagi akan punah, hilang tak berbekas. Revolusi adalah kata kunci, berubah dengan cepat, berubah dan berubah lagi, melewati kegagalan, kegagalan lagi, sukses besar, dan sudah itu mati. Semangat itulah yang dianggap tepat oleh Tom. Perusahaan model favoritnya adalah Netscape, muncul, merubah dunia, sudah itu sirna, semua dalam kurun waktu 5 tahun saja. Atau seperti Mozart, lahir, menciptakan musik yang indah, dan mati pada umur 35 tahun. Hidup ini tidak untuk selamanya, tapi kita mesti berbinar binar waktu kita hidup, dan punya arti.

Sekarang adalah jaman dunia yang berkelebihan, jaman enak, dimana teknologi telah merubah cara kita hidup dan bekerja. Pada 1970 butuh 108 orang selama 5 hari untuk membongkar muatan sebuah kapal container barang, tahun 2000 hanya butuh 8 orang selama sehari untuk melakukan hal yang sama. 540 hari kerja orang menjadi 8, penuruan 98.5% dalam kebutuhan otot tenaga kerja. Ini adalah revolusi buruh, berkurangnya kebutuhan tenaga otot. Tom memprediksi akan terjadi hal yang sama pada ‘white collar’?, pekerja kantoran. Akan terjadi pengurangan besar2an akan kebutuhan tanaga kerja karena revolusi computer dan teknologi. Kalau anda tidak punya sebuah keahlian khusus dan menjadi orang kebanyakan maka anda tidak akan berarti apa-apa dalam kehidupan ini. Dan betapapun kerasnya kita bekerja, tidak akan dapat uang banyak.

Internet telah merubah dunia, internet telah merubah cara hidup kita. Cisco, Oracle, IBM, GE, amazon, semuanya akan masuk ke dunia maya. Memang ada kagagalan di usaha dunia maya, tetapi bukan berarti internet tidak berguna atau tidak berkembang dalam dunia ini, sebaliknya semua kegiatan hidup kita sekarang telah menjadi satu terintegrasi pada internet.

PFS, Proffesional Service Firm, adalah sebutan Tom untuk perusahaan, department, bagian, devisi, atau unit business yang berisi satu orang atau 100.000 orang. PFS haruslah memberikan solusi yang terbaik dan memberi nilai tambah pada apapun yang dilakukannya.Selalu pertanyakan Apa yang sangat spesial tentang devisi/ perusahaan/ anda? Siapapun (dan apapun) anda. Solusi adalah kata kunci jaman ini. Solusi terbaik untuk masalah yang ada. Tom tidak percaya akan ketidak berdayaan, selalu ada jalan, dan ketidak berdayaan dapat selalu diubah menjadi kesempatan besar untuk menjadi hebat, di bagian apapun kerja anda.

Kata WOW dan PASSION dalam dunia management dipopulerkan oleh Tom Peters, kini Tom mulai memasukkan kata baru DREAM, mimpi adalah segalanya. Mimpi adalah harapan, mimpi adalah marketing, mimpi adalah hidup ini sendiri.Kecintaan kita ada brand, kecintaan kita akan kerja kita, kemauan kita menciptakan kerja yang WOW, dan kemampuan kita menawarkan mimpi, menjalani mimpi dan merealisasikan mimpi, semuanya adalah esensi bisnis itu sendiri.

Design, sebuah kata yang biasanya jauh dari management, mendapat bab khusus dalam buku Re-Imagine. Design membedakan cinta dengan benci, sukses dengan gagal, dan kenikmatan dan kejenuhan. Apple, BMW, VW, Sony, Google, Porche, Harley Davidson, beberapa perusahaan yang tahu bagaimana mendesign dengan baik. Kalau pas, design adalah cinta; kalau tidak tepat, design membuat kita marah. Designer adalah orang yang berpikir dengan hatinya. Tidak semua orang berbakat design, tapi kemauan untuk lebih sadar dan menghargai design adalah sebuah awal yang baik.

Branding adalah sebuah identitas, yang membedakan kita dengan orang lain. Who are you? Siapa anda, apa yang membuat anda secara dramatis berbeda dengan seratus kompetitor anda yang lain. Branding dan leadership adalah saudara kembar, keduanya menjanjikan sesuatu yang kita percayai. Hanya api cinta yang dapat mewarnai brand kita dengan baik.

Tom mulai mempopulerkan tentang wanita sebagai opportunity terbesar pada tahun 2000. Wanita adalah pemberi keputusan membeli terbanyak, dan merupakan pemimpin yang berhasil juga. Ini senada dengan konsep Hermawan Kartajaya dengan ‘Marketing in Venus-nya’, dimana hidup ini semakin ke otak kanan, semakin ke emosi dan semakin lebih membutuhkan experiensial, bukan sekedar feature and benefit saja. 83% pembelian barang2 konsumsi diputuskan wanita, 51% alat elektronik, 91% rumah baru, 92% tiket perjalanan liburan, 60% mobil, semuanya diputuskan oleh wanita.

Kegagalan adalah bagian dari sukses, gagal yang besar dan sering akan membentuk sukses yang besar. Perbaikan perlahan lahan tidak lagi menjadi kelebihan dalam berbisnis. Semua perusahaan saling belajar ‘best practise’? semuanya menjadi sama. Kalau ingin menang besar kita mesti menjadi menjadi perusahaan yang berbeda. High standard deviation firm, adalah konsep Tom untuk sukses besar, punya kepribadian, kembangkan prototype, sebarkan cerita. Mitologi adalah sebuah senjata untuk sukses, cerita adalah bagian dari kenyataan hidup. Perusahaan berkembang dari cerita dan mitologi yang disebarkannya.

Re-Imagine penuh dengan list, Sales 25 list, 20 ways to self desruct, solution 50, 17 habits of design driven company, 10 attitude Brand You, talents 25, Leadership 50, dan seterusnya. Sebuah bab tetang sales, yang intinya semua orang adalah salesman, mau atau tidak, dan kita semua harus mampu melakukannya, mau atau tidak. Tanpa sales, tidak ada WOW, tidak ada mitologi, bisnis tidak bisa bertahan, semua akan habis. Pekerjaan pimpinan terpenting adalah motivasi, fasilitasi, dan sales. Kita semua adakah penjual, kita menjual idea, barang, service, proposal, jasa, dan mimpi, kepada orang lain.

Talent, kunci sukses perusahaan masa depan. Setiap kita harus mempunyai kelebihan yang unik. Kemampuan yang lebih pada bidang yang kita kerjakan. Kita hidup dalam dunia ‘Brand You’?, sebuah keunikan pribadi dan kemampuan kita yang dihargai lebih oleh orang lain. Kita harus mampu untuk selalu belajar dan memperbaiki diri dan melewati kegagalan kegagalan kita dengan tetap penuh antusiasme. Berpikirlah seperti wiraswasta, selalu menjual, menyempurnakan kemampuan kita, menertawakan kegagalan kita, mengikuti perubahan teknologi, menyuburkan kecintaan kita akan kerja dan hidup ini. Perusahaan pun untuk sukses harus mempunyai obsesi akan talenta terbaik, kalau mau berkembang dan tumbuh.

Pendidikan kita telah menekan anak didik kita menjadi tidak kreatip dan salah asuhan. Kita membentak mereka karena tidak mau mewarnai didalam garis yang seharusnya. Kita menolak mereka karena mewarnai daun dengan warna hitam. Kita memaki mereka pembohong padahal kita tidak pernah menepai janji ‘besok ya’? kita sendiri. Kita memukul lantai dan menyalahkannya ketika anda kita jatuh, maka herankah kita kalau setelah besar mereka selalu mencari kambing hitam? Harus dilakukan sesuatu untuk pendidikan kita kalau kita menginginkan generasi berikut kita menjadi lebih baik. Leadership adalah bab terakhir buku panjang yang menarik ini.

Leadership 50 adalah list 50 karakter pemimpin idaman ala Tom Peters. Pemimpin adalah pencipta kesempatan, visionaris yang mementingkan keuntungan perusahaan, pekerja yang gila dan mencintai kekacauan dan perubahan. Pemimpin adalah kaum optimistis yang cinta detil dan memperhatikan brand dan design. Pemimpin tahu bersahabat dengan kaum aneh, dapat berbuat kesalahan, dapat mempercayai insting dan talenta yang ada, seorang networker handal yang mencintai politik dan teknologi. Pemimpin yang baik adalah story teller yang mempesona, mengetahui dirinya sendiri, bisnisnya, organisasinya dan fokus bisnisnya. Pemimpin selalu melakukan pekerjaan yang mempunyai arti.

Halaman terakhir diberi kata2 James Dean ‘?Dream as if You Live Forever’. ‘Live as if You Die Today?’. Re-Imagine adalah sebuah buku management yang sangat tipical Tom Peters, penuh semangat, penuh tanda seru!!! (tanda seru ‘!’, juga menjadi ‘logo’? dari Tom Peters Company). Tom Peters berteriak, memaki, menjerit memekakkan telinga. Sebuah buku managemen yang teatrikal dengan penuh gambar berwarna yang bisa dinikmati sepotong potong sebagai buku peneman minum kopi. Kalau anda mencintai Tom Peters seperti saya anda akan menikmati beberapa hari/minggu yang indah penuh kenikmatan. Jadi pasti, ini sebuah buku keharusan untuk siapapun yang suka membaca. Buku Re-Imagine ini bahkan telah direview di CNN dan hampir semua media besar lainnya, serta telah menjadi bestseller di Amerika.