Penulis: Jauharuddin

Paradoks Seorang Jenius

Paradoks Seorang Jenius

Jika anda diminta menyebutkan siapa nama orang paling jenius di dunia dalam sejarah hingga hari ini? Mungkin jawaban anda adalah Albert Einstein. Tapi jika pertanyaannya sedikit saya rubah seperti, siapakah orang dengan nilai kecerdasan intelektual atau IQ paling tinggi dalam sejarah hingga hari ini, apakah anda akan menjawab Albert Eintein sekali lagi? Kebanyakan mungkin masih akan menjawab Iya. Tapi ketauhilah bahwa pemilik nilai IQ tertinggi dalam sejarah bukanlah Albert Einstein, meskipun dengan teori relativitasnya dapat merubah persepsi kita akan gravitasi yang merupakan konsekuensi dari ruang dan waktu, tapi perlu diketahui bahwa nilai IQ Albert Einstein “hanya” berkisar pada angka 150an saja. Lantas siapa pemilik nilai IQ tertinggi dalam sejarah hingga hari ini? Perkenalkan namanya adalah Christopher Langan.

Menurut beberapa media di Amerika Serikat, Christopher Langan dilabeli sebagai “The Smartest Man in America”, hal ini sebenarnya tidak berlebihan mengingat nilai IQ dari Christopher Langan mencapai angka 195 sampai dengan 210. Bandingan dengan Einstein yang “hanya” pada kisaran 150an saja, cukup jauh bukan?

Kecerdasan Christipher Langan sudah tampak sejak dia kecil. Pada usia 6 bulan, ia sudah mulai bisa berbicara dengan lancar. Pada usia 3 tahun, ia mulai belajar membaca dengan cara otodidak dan hasilnya, ia pun bisa membaca berbagai macam artikel dengan sempurna dan menguasai berbagai macam kosakata. Pada usia 5 tahun, pola pikir filsusnya mulai tumbuh dan berani bertanya tentang keberadaan Tuhan kepada kakeknya – dan ia merasa kecewa akan jawaban yang di dapat dari kakeknya kala itu.

Di sekolah, Christopher Langan bisa mengikuti ujian bahasa asing tanpa harus belajar untuk mempersiapkan diri sebelumnya, dan bila ada waktu dua atau tiga menit sebelum guru datang, ia bisa membaca buku cetak dengan sangat cepat dan lulus ujian dengan nila Lanjutkan membaca “Paradoks Seorang Jenius”

Rahasia Sukses Bill Gates dan The Beatles

Rahasia Sukses Bill Gates dan The Beatles

Dalam buku karya Malcolm Gladwell yang brilliant berjudul Outliers memuat sebuah pemikiran bahwa keberhasilan dalam melakukan sebuah tugas yang kompleks mensyaratkan adanya jumlah minimum waktu latihan secara berulang-ulang untuk memperoleh keahlian dalam sebuah bidang tertentu. Pemikiran ini bernama teori sepuluh ribu jam – sebuah angka ajaib agar seseorang dapat mencapai peak performance-nya.

Seorang ahli saraf bernama Daniel Levitin menjelaskan dalam tulisannya, “Dalam berbagai penelitian terhadap para seniman, penulis novel fiksi, musisi, olahragawan hingga penjahat kelas kakap, angka sepuluh ribu jam selalu muncul berulang kali. Belum ada seorang pun yang pernah menemuan bahwa seseorang dapat menjadi ahli kelas dunia dengan waktu latihan yang lebih sedikit. Sepertinya otak kita memang membutuhkan waktu sepanjang itu untuk menyerap semua yang dibutuhkan untuk menjadi seorang yang ahli di bidangnya.” Lanjutkan membaca “Rahasia Sukses Bill Gates dan The Beatles”

Membandingkan mindset mereka yang sukses dengan mereka yang gagal

Membandingkan mindset mereka yang sukses dengan mereka yang gagal

Ada cerita menarik tentang seseorang yang dianggap sebagai simbol dari kecerdasan di millenium ini. Suatu ketika di sebuah sekolah menengah, seorang guru memarahi muridnya karena tidak memperhatikan pelajaran matematika dengan baik dan tidak bisa menyelesaikan soal-soal yang mudah. Guru ini sangat marah dan mengatakan bahwa kelak muridnya ini tidak akan menjadi apa-apa di dunia ini. Tahukah anda siapa yang saya maksud? yap, tak lain adalah Albert Einstein.

Atau tahukah anda bahwa Elvis Presley di tahun 1954 pernah dipecat oleh Manager Grand Ole Opry – Jimmy Denny – setelah sekali tampil? sambil mengusirnya keluar, Jimmy Denny menyarankan agar Elvis berhenti bernyanyi dan kembali mengemudikan truk.

Dan tahukah anda bahwa sewaktu SMA, ideks prestasi komulatif Steve Jobs hanyalah 2,65 Lanjutkan membaca “Membandingkan mindset mereka yang sukses dengan mereka yang gagal”

Pilih Pekerjaan Atau Karir?

Pilih Pekerjaan Atau Karir?

Your Job Is Not Your Career! Sebuah kredo yang senantisa disampaikan oleh Rene’ Suhardono. Kredo yang dipilih sebagai judul dari buku yang ditulisnya. Banyak di antara kita yang mungkin masih bingung ketika ditanya tentang bedanya Job dan Career? Karena bagi kita kedua kata tersebut memiliki maksud yang sama. Bahkan ada juga yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan Careeradalah Job itu sendiri.

Dalam buku Your Job Is Not Your Career!, Rene’ Suhardono ingin meluruskan pandangan kita bahwa pada dasarnya kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Perbedaan kedua makna tersebut begitu jauh sampai-sampai Rene’ Suhardono sering kali menyampaikan kredo Your Job Is Not Your Career! dalam bukunya.

Menurut hemat Rene’ Suhardono  yang membedakan antara Job dan Career adalah pekerjaan sekedar alat atau kendaraan yang membawa kita ke suatu tempat yang kita kehendaki sedangkan karier adalah Lanjutkan membaca “Pilih Pekerjaan Atau Karir?”

Cara menjadi Expert di suatu profesi

Cara menjadi Expert di suatu profesi

Expert adalah orang yang ahli di bidangnya, mumpuni, jago, mahir di bidang yang ditekuni. Expert kelas dunia contohnya, Bill Gates, JK Rowling, Michael Jordan, Jack Welch, Charles Branson, L. Messi, BJ Habiibie. Pertanyaannya apakah untuk menjadi ahli (expert) kita memerlukan bakat? Berdasarkan pertanyaan Human Resource Development (HRD) dari jaman dahulu kala yang pertanyaannya sederhana “Apakah pemimpin itu diciptakan atau diwariskan (bakat)?” Setelah mereka melakukan penelitian mereka mendapatkan sebuah hasil bahwa yang namanya pemimpin itu diciptakan atau dibentuk, bukan dari warisan. Dari pernyataan tersebut kita juga dapat menyimpulkan bahwa yang namanya keahlian itu bukan dari warisan melainkan dari diri kita sendiri yang menciptakannya atau yang membentuknya. Lalu bagaimana cara untuk menjadi expert? Berikut ialah uraian singkat untuk menjadi expert. Lanjutkan membaca “Cara menjadi Expert di suatu profesi”

The paradox of choice: Sebuah pilihan dan keputusan

The paradox of choice: Sebuah pilihan dan keputusan

“Should I kill myself, or have a cup of coffee?”
Sebuah kalimat dari Albert Camus, seorang filsuf dari Perancis, tersebut dikutip dalam buku Barry Schwartz, The Paradox of Choice , sebagai ungkapan yang mewakili bahwa segala sesuatu dalam hidup ini adalah sebuah pilihan. Tak bisa dipungkiri, setiap hari kita dihadapkan pada berbagai pilihan mulai dari memilih baju untuk dipakai ke tempat kerja, memilih makanan yang tercantum di menu restaurant, memilih peralatan elektronik dan berbagai pilihan lain yang kita lakukan dalam keseharian.Memilih memang sebuah perkara yang rumit dan menjadi semakin rumit dengan hadirnya semakin banyak pilihan yang tersaji di hadapan kita saat ini.

Pernah kita berada di sebuah toko sepatu dan kebingungan sepatu yang manakah yang akan kita beli? Pernahkah kita memasuki sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli peralatan kebutuhan sehari-hari, namun kita membutuhkan waktu seharian untuk memilih sabun apa yang akan kita pakai Lanjutkan membaca “The paradox of choice: Sebuah pilihan dan keputusan”